• Bingkai Kuratorial


    Bingkai Kuratorial

    Memperbincangkan 'Keindahan dalam keseharian', bukan hal mudah. Beragam-ragam makna di dalamnya bisa diungkap dari perspektif. Berpijak pada etimologi, 'keindahan' dapat dimaknai secara berlapis ; keindahan bisa dikenakan pada objek (benda atau peristiwa), dan juga tindakan /upaya aktif memperlakukan (objek)nya. Dalam konteks pemaknaan yang lebih luas, keindahan sebagai sebuah 'keadaan indah' ada keteraturan dan keselarasan bersamaan dengan kecantikan dan keelokan pada sesuatu. Akal, imajinasi, dan kecenderungan tinggi manusia juga bisa menyuarakan kepada kebaikan serta memberinya kesenangan dan kenikmatan. Dengan memaknai keindahan sebagai keselarasan dan keharmonisan yang membentuk kenikmatan karakter tertentu dalam diri, maka seseorang akan mengetahui yang 'indah' berada dalam benaknya.

    Dari makna keindahan yang berlapis tersebut, sebenarnya kita memiliki peluang untuk memaknai keindahan dalam keseharian dengan penuh penghayatan. Namun pada umumnya objek di sekitar kita hanya dinilai secara sepintas; sesuatu yang tampak bersih/kotor;beraroma wangi/busuk; rasanya manis/pahit, seringkali hanya di'indra' sebagai material dan dinilai fisiknya saja serta tidak dianggap sebagai pengalaman estetis. Dalam hal ini, Livingston (2012) menyampaikan bahwa "beberapa pengalaman seseorang tidak melewati pintu dalam domain pengalaman estetis, tetapi hanya memenuhi kondisi perilaku sebagai serapan persepsi tanpa hanya memenuhi kondisi perilaku sebagai serapan persepsi tanpa adanya kesadaran; ini seringkali mencakup apa yang bisa dan diakrabi". Objek sehari-hari haya akan tampak sebagai material jika tidak diamati dengan kesadarannya, padahal ia memiliki potensi-potensi keindahan untuk digali dan dimaknai dengan cara yang baru.

    Melalui pengamatan mendalam, potensi virtual dari yang terindra jadi menampak, yaitu potensi-potensi yang ada 'di sini', 'di sana', dan di mana-mana' lalu dipilih yang paling meyakinkan untuk dinyatakan menjadi suatu pemaknaan baru.

    Cara pandang positif akan melahirkan pemaknaan imajinatif atas material yang diamati, sebaliknya cara pandang negatif akan membunuh dan tak menemukan potensi virtual keindahannya. Hal ini berkaitan dengan di mana cara kita berada, di situlah suasana hati kita ditata sesuai dengan situasi. Pertanyaannya, bagaimana kita menggunakan suasana hati untuk merasakan material bisa tersingkap keindahannya? Untuk mengasah rasa dan kepekaan dalam mendekati objek material, khususnya dimensi-dimensi keindahannya yang kaya dan menarik, kita harus mengaktifkan indra-indra dengan melihat dan mengalaminya. Dalam hal ini, Leonardo da Vinci pernah menyarakan bahwa kita harus belajar dan melatih diri untuk menjadi anak kecil yang bisa asyik bermain dengan benda-benda di sekitarnya, atau bergerak seperti bintang, sembau seperti rusa, makan dan minum seperti juru masak. Dengan mengaktifkan rasa-rasa yang diserap melalui indra dan kesadaran maka objek material harus dilihat sebagai objek yang statis tetapi juga dirasakan sebagai subjek estetik yang menjadi sumber untuk membangkitkan emosi-emosi estetik kita.

    Dalam konteks memahami keindahan keseharian, Yuriko Saito (2007) menekankan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk menumbuhkan agar 'melek estetika', sehingga kita bisa berbicara dengan benda sehari-hari dan lingkungan. Menurut salah satu pendekatan estetika sehari-hari yaitu mengikuti teori estetika tradisional yang berkaitan dengan 'sikap estetik', hal ini akan membebaskan diri dari sikap praktis; cara normal seperi mengalami atau bereaksi ketika menghargai benda sebagai fungsi atau menyesalkan sebuah pakaian kotor yang mendorong kita untuk membersihkannya. Teori sikap estetika tradisional dalam pandangannya akan lebih erat hadir untuk 'permukaan sensual'. Dalam melakukannya, kita pasti bisa menemukan 'permata tersembunyi' dari sebuah pakaian bernoda, meski kadang kita tidak memperhatikan atau menghargai ini; karena seringkali tidak melihatnya sebagai obyek estetika. Untuk memperjelas seruan Saito, bisa dilihat dalam contoh kasus 'karpet bernoda'.

    Bayangkan seorang pelukis yang tidak membersihkan karpet dari kotoran karena ia tertarik untuk mendapatkan inspirasi seninya tentu berbeda dengan seorang pembantu rumah tangga yang melihatnya sebagai kotoran, sehingga harus segera dibersihkan. Dari kedua kasus ini kita bisa melihat sumber ketegangan. Sebenarnya, kedua sikap terhadap 'karpet bernoda' tersebut sama-sama estetik; hanya fokus sifatnya saja yang berbeda. Saito mengatakan bahwa estetika sehari-hari berfungsi 'normatif' ketika kita menghargai 'permata tersembunyi' dengan bantuan seni, lalu bukankah membersihkan noda karpet juga tindakan normatif? Tapi mana yang lebih normatif dalam hal ini; membersihkan noda atau melihatnya sebagai permata tersembunyi dengan cara bantuan seni? Bukankah keduanya sama-sama normatif jika setiap penilaian ditentukan dengan pendekatannya sendiri? Seniman yang mencari inspirasi dari karpet kotor merupakan tindakan normatif karena didukung oleh norma dalam seni, sedangkan masyarakat lainnya juga memiliki norma yang mendukung sebuah karpet bersih. Atau bahkan membersihkan noda mungkin dianggap lebih normatif karena ini merupakan reaksi yang lebih normal di sebagian besar masyarakat. Kita bisa mengakui bahwa menjaga 
    karpet bernoda' sebagai 'permata tersembunyi' memang merupakan kemampuan yang luar biasa. Namun upaya membersihkan karpet bernoda juga normatif karena tindakan itu membuatnya terlihat lebih baik, yang ditujukan untuk meningkatkan tingkat rendah kualitas estetika, yaitu 'terlihat bagus' atau 'bersih'. Kontribusi penting Saito di sini membuat kita lebih sadar tentang bagaimana tindakan dalam menanggapi apa yang kita lihat di dunia adalah sama pentingnya sebagai pengalaman estetis yang terpisah dan kontemplatif. Jadi bahwa estetika sehari-hari tidak harus eksklusif dengan reaksi yang biasa melemahkan dan tampak pragmatis; yang sering mengakibatkan berbagai tindakan, seperti membersihkan, membuang, dan melestarikan. Berbagai potensi keindahan dalam tindakan peduli terhadap lingkungan sekitar telah mendapat perhatian dalam praktik seni rupa dewasa ini.

    Persoalannya bagaimana 'yang indah' itu berada dalam kepedulian? Sementara contoh tindakan peduli dari pekerja rumah tangga dalam membersihkan noda karpet di atas telah jatuh pada tingkatan kualitas estetika rendah. Jika kepedulian ingin ditingkatkan nilainya, lalu bagaimana tindakan yang bisa dilakukan melalui pendekatan seni? Melalui pemahaman keindahan tersebut, maka kegiatan Art Edu Care #9 kali ini mengajak para dosen, mahasiswa, alumni, seniman, komunitas seni, dan masyarakat luas untuk kembali menyerukan pentingnya kesadaran mengungkap potensi-potensi dalam berbagai obyek sehari-hari. Berbagai penjelajahan estetik-artistik sangat diharapkan, sehingga dimungkinkan akan bisa memunculkan karya-karya seni baru, segar, dan relevan dengan perkembangan zaman. Semoga!

  • 0 komentar:

    Posting Komentar

    Instagram

    @ArtEducare

    Twitter

    @ArtEducare_uns

    Facebook

    Art Edu Care

    Youtube

    Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS

    Universitas Sebelas Maret Surakarta

    Himproser - FKIP - Pendidikan Seni Rupa